Kita
seringkali mendengar pertanyaan mengenai kaitan antara Al-Quran dan
Sains. Terdapat banyak contoh yang bisa kita dikupas antara kaitan sains
dan embriologi.
Apa yang kita faham dari maksud Embriologi? Embriologi ialah satu ilmu yang mengkaji tentang proses kejadian dan perkembangan embrio dalam rahim. Mungkin ada di antara kita pernah terfkir dari mana asal usul kita? Adakah sama seperti kejadian Adam a.s yang berasal dari tanah?
Sesungguhnya penciptaan Adam a.s berdasar dari kita yang berasal dari benih lelaki dan wanita.
Embrio terbentuk setelah percantuman benih lelaki (sperma) yang terdapat dalam air mani dengan benih wanita (ovum)yang terdapat dalam cecair dalam ovari.
Selepas percantuman benih atau persenyawaan berlaku, kejadian bayi bermula dari satu tahap ke tahap yang lain.
Pada tahap awal, bayi dikenali sebagai embrio dan berubah menjadi alaqah(segumpal darah)dan bertukar menjadi mudghah iaitu “daging yang sedikit yang sebahagian daripadanya telah dikunyah”. Kemudian embrio ditutup dengan tulang dan daging.
Hal ini dinyatakan dalam surah al-Mukminun ayat 14: “Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha suci Allah Pencipta yang paling baik.”
Secara bahasa, kata bahasa arab ‘alaqah mempunyai tiga makna:
1. lintah,
2. sesuatu yang menempel/tergantung, dan
3. gumpalan darah.
Jika kita membandingkan sebuah lintah dengan embrio pada fase ‘alaqah, kita akan menemukan kemiripan di antara keduanya, sebagaimana terlihat dalam gambar 1. Selain itu, sang embrio pada fase ini memperoleh makanan melalui aliran darah dari ibunya, mirip dengan lintah yang menghisap darah dari makhluk lain.
Makna ke dua dari kata ‘alaqah adalah sesuatu yang menempel/tergantung. Hal ini dapat kita lihat dalam gambar 2 dan 3, di mana embrio pada fase ‘alaqah, menggantung dan menempel pada rahim sang ibu.
Makna ke tiga dari kata ‘alaqah adalah gumpalan darah. Kita dapat melihat bahwa tampilan luar dari embrio dan kantungnya pada saat fase ‘alaqah sangat mirip dengan darah yang menggumpal. Hal ini disebabkan oleh kehadiran darah yang relatif banyak selama fase ini (lihat gambar 4). Pun pada fase ini, darah di dalam embrio belum mengalami sirkulasi hingga akhir minggu ke tiga. Dengan demikian, embrio pada fase ini memang mirip gumpalan darah.
Jadi, tiga makna dari kata ‘alaqah secara akurat amat bersesuaian dengan keaadaan embrio pada fase ‘alaqah.
…
Bagaimana bisa Nabi Muhammad mengetahui semua rincian ini lebih dari 1400 tahun yang lalu? Padahal para ilmuwan baru bisa mengetahui hal tersebut di masa moderen ini dengan bantuan peralatan mutakhir dan mikroskop yang amat kuat? Hamm dan Leeuwenhoek adalah ilmuwan pertama yang mengamati sel sperma manusia (spermatozoa) melalui mikroskop di tahun 1677 (lebih dari 1000 tahun setelah jaman Nabi Muhammad). Mereka berdua secara salah menganggap bahwa sel sperma mengandung manusia mini yang akan tumbuh ketika ia dibenihkan ke dalam kelamin wanita.
Di tahun 1981, dalam Konferensi Kedokteran Ke Tujuh di Dammam, Arab Saudi, Profesor Keith Moore berkata: “Adalah sebuah kehormatan tersendiri bagi saya untuk bisa membantu memperjelas pernyataan Al Qur’an tentang perkembangan manusia. Sangat jelas bagi saya bahwa pernyataan tersebut tentulah sampai kepada Nabi Muhammad dari Allah, karena hampir semua pengetahuan mengenai hal ini baru ditemukan berabad-abad kemudian. Hal ini membuktikan kepada saya bahwa Nabi Muhammad tentulah merupakan Utusan Allah.
Kemudian, Profesor Keith Moore ditanya: “Apakah ini berarti bahwa anda mempercayai Al Qur’an merupakan firman Allah?” Ia menjawab: “Saya tidak keberatan untuk menerima hal tersebut.”
Apa yang kita faham dari maksud Embriologi? Embriologi ialah satu ilmu yang mengkaji tentang proses kejadian dan perkembangan embrio dalam rahim. Mungkin ada di antara kita pernah terfkir dari mana asal usul kita? Adakah sama seperti kejadian Adam a.s yang berasal dari tanah?
Sesungguhnya penciptaan Adam a.s berdasar dari kita yang berasal dari benih lelaki dan wanita.
Embrio terbentuk setelah percantuman benih lelaki (sperma) yang terdapat dalam air mani dengan benih wanita (ovum)yang terdapat dalam cecair dalam ovari.
Selepas percantuman benih atau persenyawaan berlaku, kejadian bayi bermula dari satu tahap ke tahap yang lain.
Pada tahap awal, bayi dikenali sebagai embrio dan berubah menjadi alaqah(segumpal darah)dan bertukar menjadi mudghah iaitu “daging yang sedikit yang sebahagian daripadanya telah dikunyah”. Kemudian embrio ditutup dengan tulang dan daging.
Hal ini dinyatakan dalam surah al-Mukminun ayat 14: “Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha suci Allah Pencipta yang paling baik.”
Secara bahasa, kata bahasa arab ‘alaqah mempunyai tiga makna:
1. lintah,
2. sesuatu yang menempel/tergantung, dan
3. gumpalan darah.
Jika kita membandingkan sebuah lintah dengan embrio pada fase ‘alaqah, kita akan menemukan kemiripan di antara keduanya, sebagaimana terlihat dalam gambar 1. Selain itu, sang embrio pada fase ini memperoleh makanan melalui aliran darah dari ibunya, mirip dengan lintah yang menghisap darah dari makhluk lain.
Makna ke dua dari kata ‘alaqah adalah sesuatu yang menempel/tergantung. Hal ini dapat kita lihat dalam gambar 2 dan 3, di mana embrio pada fase ‘alaqah, menggantung dan menempel pada rahim sang ibu.
Makna ke tiga dari kata ‘alaqah adalah gumpalan darah. Kita dapat melihat bahwa tampilan luar dari embrio dan kantungnya pada saat fase ‘alaqah sangat mirip dengan darah yang menggumpal. Hal ini disebabkan oleh kehadiran darah yang relatif banyak selama fase ini (lihat gambar 4). Pun pada fase ini, darah di dalam embrio belum mengalami sirkulasi hingga akhir minggu ke tiga. Dengan demikian, embrio pada fase ini memang mirip gumpalan darah.
Jadi, tiga makna dari kata ‘alaqah secara akurat amat bersesuaian dengan keaadaan embrio pada fase ‘alaqah.
…
Bagaimana bisa Nabi Muhammad mengetahui semua rincian ini lebih dari 1400 tahun yang lalu? Padahal para ilmuwan baru bisa mengetahui hal tersebut di masa moderen ini dengan bantuan peralatan mutakhir dan mikroskop yang amat kuat? Hamm dan Leeuwenhoek adalah ilmuwan pertama yang mengamati sel sperma manusia (spermatozoa) melalui mikroskop di tahun 1677 (lebih dari 1000 tahun setelah jaman Nabi Muhammad). Mereka berdua secara salah menganggap bahwa sel sperma mengandung manusia mini yang akan tumbuh ketika ia dibenihkan ke dalam kelamin wanita.
Di tahun 1981, dalam Konferensi Kedokteran Ke Tujuh di Dammam, Arab Saudi, Profesor Keith Moore berkata: “Adalah sebuah kehormatan tersendiri bagi saya untuk bisa membantu memperjelas pernyataan Al Qur’an tentang perkembangan manusia. Sangat jelas bagi saya bahwa pernyataan tersebut tentulah sampai kepada Nabi Muhammad dari Allah, karena hampir semua pengetahuan mengenai hal ini baru ditemukan berabad-abad kemudian. Hal ini membuktikan kepada saya bahwa Nabi Muhammad tentulah merupakan Utusan Allah.
Kemudian, Profesor Keith Moore ditanya: “Apakah ini berarti bahwa anda mempercayai Al Qur’an merupakan firman Allah?” Ia menjawab: “Saya tidak keberatan untuk menerima hal tersebut.”
No comments:
Post a Comment