
Disusun dan di ajukan
untuk memenuhi penyelesaian UJIAN PRAKTIKUM KIMIA
Tentang menentukan
larutan dan indikator asam, basa, dan netral dari suatu jenis bunga/tumbuhan
Tahun pelajaran
2013-2014
Guru bidang study :
Ibu Prapti Wahyuning S.pd
Disusun oleh :
Ahmad Fauzi & Gilang Tri Anggara
Kelas :
XII IPA2
Hari/tgl pengumpulan :
Jum’at, 28 maret 2014
![]() |
DAFTAR ISI
- TEORI DASAR
……………………………………………………………………………………………...................... i
a. Teori Arrhenius
b. Bronsted-Lowry
c. G.N Lewis
- TUJUAN PERCOBAAN
…………………………………………………………………………………………………….. ii
- ALAT DAN BAHAN
…………………………………………………………………………………………………………. iii
- CARA KERJA
………………………………………………………………………………………………………………….. iv
- HASIL PERCOBAAN
………………………………………………………………………………………………………… v
- KESIMPULAN
………………………………………………………………………………………………………………….vi
- DAFTAR PUSTAKA
…………………………………………………………………………………………………………vii
1. Teori Dasar
A. TEORI ASAM-BASA
a. TEORI ARRHENIUS
Menurut teori Arrhenius, zat yang dalam air menghasilkan ion H + disebut
asam danbasa adalah zat yang dalam air terionisasi menghasilkan ion OH - .
HCl --> H + +
Cl -
NaOH --> Na +
+ OH -
Meskipun teori Arrhenius benar, pengajuan desertasinya mengalami hambatan
berat karena profesornya tidak tertarik padanya. Desertasinya dimulai tahun
1880, diajukan pada 1883, meskipun diluluskan teorinya tidak benar. Setelah
mendapat bantuan dari Van’ Hoff dan Ostwald pada tahun 1887 diterbitkan
karangannya mengenai asam basa. Akhirnya dunia mengakui teori Arrhenius pada
tahun 1903 dengan hadiah nobel untuk ilmu pengetahuan.
Sampai sekarang teori Arrhenius masih tetap berguna meskipun hal tersebut
merupakan model paling sederhana. Asam dikatakan kuat atau lemah berdasarkan
daya hantar listrik molar. Larutan dapat menghantarkan arus listrik kalau mengandung
ion, jadi semakin banyak asam yang terionisasi berarti makin kuat asamnya. Asam
kuat berupa elektrolit kuat dan asam lemah merupakan elektrolit lemah. Teori
Arrhenius memang perlu perbaikan sebab dalam lenyataan pada zaman modern
diperlukan penjelasanyang lebih bisa diterima secara logik dan berlaku secara
umum. Sifat larutan amoniak diterangkan oleh teori Arrhenius sebagai berikut:
NH 4 OH --> NH 4 + + OH -
Jadi menurut Svante August Arrhenius (1884) asam adalah spesi yang
mengandung H + dan basa adalah spesi yang mengandung OH -, dengan asumsi bahwa
pelarut tidak berpengaruh terhadap sifat asam dan basa.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa:
Asam ialah senyawa yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion H + .
Basa ialah senyawa yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion OH - .
Contoh:
1) HCl(aq) --> H + (aq) + Cl - (aq)
2) NaOH(aq) --> Na + (aq) + OH - (aq)
b. MENURUT BRONSTED-LOWRY
Asam ialah proton donor, sedangkan basa adalah proton akseptor.
Teori asam basa dari Arrhenius ternyata tidak dapat berlaku untuk semua
pelarut, karena khusus untuk pelarut air. Begitu juga tidak sesuai dengan
reaksi penggaraman karena tidak semua garam bersifat netral, tetapi ada juga
yang bersifat asam dan ada yang bersifat basa.
Konsep asam basa yang lebih umum diajukan oleh Johannes Bronsted, basa
adalah zat yang dapat menerima proton. Ionisasi asam klorida dalam air ditinjau
sebagai perpindahan proton dari asam ke basa.
HCl + H2O --> H3O + + Cl -
Demikian pula reaksi antara asam klorida dengan amoniak, melibatkan perpindahan proton dari HCl ke NH
3 .
HCl + NH 3 ⇄ NH 4 + + Cl -
Ionisasi asam lemah dapat digambarkan dengan cara yang sama.
HOAc + H 2 O ⇄ H 3 O + + OAc -
Pada tahun 1923 seorang ahli kimia Inggris bernama T.M. Lowry juga
mengajukan hal yang sama dengan Bronsted sehingga teori asam basanya disebut Bronsted-Lowry.
Perlu diperhatikan disini bahwa H + dari asam bergabung dengan molekul air
membentuk ion poliatomik H 3 O + disebut ion Hidronium.
Reaksi umum yang terjadi bila asam dilarutkan ke dalam air adalah:
HA + H 2 O ⇄
H 3 O + + A -
asam basa asam konjugasi basa konjugasi
Penyajian ini menampilkan hebatnya peranan molekul air yang polar dalam
menarik proton dari asam.
Perhatikanlah bahwa asam konjugasi terbentuk kalau proton masih tinggal
setelah asam kehilangan satu proton. Keduanya merupakan pasangan asam basa
konjugasi yang terdi dari dua zat yang berhubungan satu sama lain karena
pemberian proton atau penerimaan proton. Namun demikian disosiasi asam basa
masih digunakan secara Arrhenius, tetapi arti yang sebenarnya harus kita
fahami.
Johannes N. Bronsted dan Thomas M. Lowry membuktikan bahwa tidak semua
asam mengandung ion H + dan tidak semua basa mengandung ion OH - .
Bronsted – Lowry mengemukakan teori bahwa asam adalah spesi yang memberi
H + ( donor proton ) dan basa adalah spesi yang menerima H + (akseptor proton).
Jika suatu asam memberi sebuah H + kepada molekul basa, maka sisanya akan
menjadi basa konjugasi dari asam semula. Begitu juga bila basa menerima H +
maka sisanya adalah asam konjugasi dari basa semula.
Teori Bronsted – Lowry jelas menunjukkan adanya ion Hidronium (H 3 O + )
secara nyata.
Contoh:
HF + H 2 O ⇄ H 3 O + + F -
Asam basa asam konjugasi basa
konjugasi
HF merupakan pasangan dari F - dan H 2 O merupakan pasangan dari H 3 O +
.
Air mempunyai sifat ampiprotik karena dapat sebagai basa dan dapat
sebagai asam.
HCl + H 2 O --> H 3 O + + Cl -
Asam Basa
NH 3 + H 2 O ⇄ NH 4 + + OH -
Basa Asam
Manfaat dari teori asam basa menurut Bronsted – Lowry adalah sebagai
berikut:
1. Aplikasinya tidak terbatas pada pelarut air, melainkan untuk semua
pelarut yang mengandunh atom Hidrogen dan bahkan tanpa pelarut.
2. Asam dan basa tidak hanya berwujud molekul, tetapi juga dapat berupa
anion dan kation.
Contoh lain:
1) HAc(aq) + H 2 O(l) --> H 3 O+(aq) + Ac - (aq)
asam-1 basa-2 asam-2 basa-1
HAc dengan Ac - merupakan pasangan asam-basa konyugasi.
H 3 O+ dengan H 2 O merupakan pasangan asam-basa konyugasi.
2) H 2 O(l) + NH 3 (aq) --> NH 4 + (aq) + OH - (aq)
asam-1 basa-2 asam-2 basa-1
H 2 O dengan OH - merupakan pasangan asam-basa konyugasi.
NH 4 + dengan NH 3 merupakan pasangan asam-basa konyugasi.
Pada contoh di atas terlihat bahwa air dapat bersifat sebagai asam
(proton donor) dan sebagai basa (proton akseptor). Zat atau ion atau spesi
seperti ini bersifat ampiprotik (amfoter).
c. MENURUT G.N.LEWIS
Selain dua teori mengenai asam basa seperti telah diterangkan diatas,
masih ada teori yang umum, yaitu teori asam basa yang diajukan oleh Gilbert
Newton Lewis ( 1875-1946 ) pada awal tahun 1920. Lewis lebih menekankan pada
perpindahan elektron bukan pada perpindahan proton, sehingga ia mendefinisikan
: asam penerima pasangan elektron dan basa adalah donor pasangan elekton.
Nampak disini bahwa asam Bronsted merupakan asam Lewis dan begitu juga basanya.
Perhatikan reaksi berikut:
Reaksi antara proton dengan molekul amoniak secara Bronsted dapat diganti
dengan cara Lewis. Untuk reaksi-reaksi lainpun dapat diganti dengan reaksi
Lewis, misalnya reaksi antara proton dan ion Hidroksida:
Ternyata teori Lewis dapat lebih luas meliput reaksi-reaksi yang tidak
ternasuk asam basa Bronsted-Lowry, termasuk kimia Organik misalnya:
CH 3 + + C 6 H 6 ⇄ C 6 H 6 CH 3 +
Asam ialah
akseptor pasangan elektron, sedangkan basa adalah Donor pasangan elektron.
II. Tujuan dari percobaan ini adalah agar dapat membedakan larutan
asam dan basa, dan dapat mengetahui indicator percobaan yang baik.
III. Alat dan Bahan :
- ALat
·

Gelas ukur

Gelas ukur
·
Lumping/Alu
·
2 alat suntik
·
Kertas saring/tisu
·
Plat tetes
·
Batang pengaduk
- Bahan
·
Indikator alam (bunga telang dan bunga kertas)
·

Air 200ml

Air 200ml
·
Larutan asam
·
Larutan basa
·
Larutan netral (air)
IV. Cara Kerja
Langkah Kerja :
1.
Tumbuk bunga pada alu hingga halus.
2.
Tambahkan air 10ml pada tumbukan.
3.
Aduk dengan batang pengaduk.
4.
Kemudian saring ekstak larutan bunga nya.
5.
Pindahkan pada plat tetes menggunakan suntikan.
6.
Tambahkan larutan asam,basa,air pada
masing-masing larutan bunga
7.
Tambahkan larutan X, Y, Z pada masing-masing
larutan bunga.
8.
Amati perubahan warna dari hasil percobaan.
V. Hasil Percobaan :
Pada
percobaan yang pertama yaitu bunga telang, sebelum di tetesi, air warna larutan
bunga telong tidak berubah. namun, setelah di tetesi larutan menghasil
perubahan warna pada larutan bunga telang, kemudian larutan bunga telang
ditetesi larutan X,Y,Z menunjukan perubahan warna yg berbeda-beda.

Pada hasil percobaan ini, dapat
terlihat perubahan warna dalam larutan asam, basa, dan netral sebagai berikut :
Larutan pertama :
Perubahan warna pada larutan
pertama terlihat warna biru yg menunjukan sifat netral, ungu menunjukan sifat
asam, dan hijau yg menunjukan sifat basa.
Larutan kedua :
Perubahan warna pada larutan
kedua terlihat warna merah tua yg menunjukan sifat netral, merah yg menunjukan
sifat asam dan coklat yg menunjukan sifat basa
VI. Kesimpulan
Kesimpulan yg kami dapatkan dari percobaan ini adalah :
Bunga telang lebih efektif
dijadikan sebagai indicator percobaan larutan asam basa karena warna yg
dihasilkan ketika ditetesi larutan (asam, basa, dan netral) lebih memberikan
perbedaan untuk dijadikan ciri dari masing-masing larutan. Sedangkan, larutan
bunga kertas kurang baik untuk dijadikan bahan percobaan larutan asam, basa
karena warna yg dihasilkan saat ditetesi larutan hanya mengalami perubahan
warna yang relatif sedikit, sehingga ada kesulitan untuk menentukan perbedaan
dari larutan yang bersifat asam, basa, dan netral.
VII. Daftar Pustaka

No comments:
Post a Comment